◄ DivaNusantara ►

you fade like shadow
you pass like wind

you speak like a mute
you hear like a deaf
you see like a blind

you leave like hope
you die like light

Ali itu kita, dan pohon apel tu orangtua kita..

Di

suatu kota kecil hidup seorang bocah, Ali namanya tak jauh dari

rumahnya berdiri kokoh pohon apel, setiap hari sepulang sekolah Ali

selalu bermain di bawah pohon apel itu, berlari-larian, berayun di atas

rantingnya, memetik buahnya, bahkan tak jarang ia terlelap di bawah

teduh dan sejuknya pohon apel itu, tiap hari tanpa terkecuali ia selalu

menghabiskan siangnya bersama pohon apel.

Suatu ketika Ali kecil tidak tampak lagi bermain di sekitar pohon apel.

Pohon apel pun bertanya-tanya, kemanakah Ali??kenapa dia tidak

menemuiku hari ini??

Beberapa hari kemudian Ali datang, dengan wajah riang sang pohon apel

menyambut ke mana saja wahai kawanku Ali??apakah kau sudah bosan

bermain denganku??

tidak wahai pohon apel kawanku, hanya saja aku melihat di pasar lokal

ada penjual mainan rumah-rumahan kayu, aku ingin memilikinya, namun aku

tidak punya uang untuk membelinyaujar Ali tertunduk

Pohon apel tak tega melihat sahabatnya Ali,kau boleh ambil semua buah

apel dari pohonku, kau bisa menjualnya di pasar, sedangkan uangnya dapat

kau belikan mainan tersebutujar pohon apel sambil tersenyum

benarkah ituTanya Ali. ya, ambillah semua buahku, aku tidak ingin melihatmu bersedih kawantegas pohon apel

Ali yang kegirangan kemudian mulai memetik satu persatu buah apel hingga

tak tersisa satupun. terimakasih kawan,sepulang dari pasar aku akan

mengunjungimu lagijanji Ali riang, pohon apelpun ikut tersenyum melihat

Ali beranjak pergi.

Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, pohon apel tetap setia

menunggu kedatangan Ali kecil yang tak kunjung datang menemuinya. Suatu

saat Alipun datang, Ali kecil telah berubah menjadi remaja yang beranjak

dewasa. Pohon apel sangat senang melihat Ali wahai kawanku Ali, lama

sekali kita tidak bertemu, apakah kau sudah bosan bermain

denganku??Tanya pohon apel

maaf kawanku pohon apel, aku sekarang sudah bukan anak kecil lagi, aku

sudah beranjak dewasa,aku tidak bisa menghabiskan waktuku bermain-main

denganmu, aku harus mulai mencari nafkah untuk diriku sendiriucap Ali.

Pohon apel menyahut lalu kenapa wajahmu bersedih kawan??apakah ada sesuatu yang mengganggumu??bisakah aku membantumu??

Ali kemudian bercerita aku sekarang bekerja sebagai buruh pembersih

kandang kuda,di satu sisi aku perlu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

dan makan, di sisi lain aku harus menyisakannya untuk keperluanku akan

membangun rumah, sedangkan di kota ini harga kayu sangatlah mahal, aku

tidak sanggup membelinya

Aku akan membantumu Ali, potonglah semua dahan dan rantingku, pergunakan semua untuk keperluanmu membangun rumahmu

tidak, itu akan melukaimu, apa jadinya kau tanpa dahan dan

rantingmu??kilah Ali. Tak apa kawan, aku masih bisa bertahan, aku akan

ikut senang jika melihatmu senangjawab pohon apel

Kemudian dengan perasaan sedih kemudian Ali mulai memotong satu persatu

dahan dan ranting pohon apel. Pohon apel hanya bisa merasakan sakit yang

luar biasa di setiap dahan dan ranting yang jatuh dari tubuhnya, namun

sedikitpun pohon apel tak memperlihatkan raut wajah kesakitan, dia

berusaha terus tersenyum di depan Ali.

Setelah mengumpulkan semua dahan dan ranting yang sudah di potong Alipun

beranjak pergi untuk mulai membangun rumahnya jauh dari tempat pohon

apel berdiri.

Waktu terus berlalu, tahun berganti tahun, pohon apel yang mulai menua

dan kesepian tak pernah lagi melihat Ali sahabatnya. Tanpa di duga-duga

Alipun muncul. Bukan main senangnya pohon apel melihat kedatangan Ali.

wahai Ali kawanku, betapa senang aku melihatmu setelah sekian lama,

apakah kau lupa padaku??mari kita bermain bersama seperti duluujar

pohon apel bahagia.

Ali kemudian berceritamaaf kawanku pohon apel,aku tidak bisa, aku

sedang dilanda kesusahan, sekarang aku sudah berkeluarga, aku harus

menghidupi anak dan istriku yang sekarang tinggal di luar kota,

sedangkan untuk menuju ke sana aku harus melewati sungai yang demikian

panjang, aku tidak bisa menemui mereka setiap hari, biaya menyeberang

sangatlah mahal, upahku sebagai buruh tidak cukup untuk biaya pulang

menemui keluargaku setiap hari

Pohon apel lantas tersenyum batang pohonku yang besar ini, kau bisa

memotongnya untuk kau jadikan perahu, dengan begitu kau akan dapat

menemui anak dan istrimu setiap hari

tidak, hanya tinggal batang pohonmu saja yang tersisa setelah berapa

tahun yang lalu aku memotong dahan dan rantingmu untuk ku buat rumah,

aku akan sangat berdosa jika sampai memotong batangmuAli menolak

tawaran pohon apel

tak apa kawan, aku akan melakukan apapun asal kau bahagia, satu-satunya

kawanku hanyalah kau, apa jadinya jika kawanku dilanda kesusahan dan

aku tidak dapat membantunya??tegas pohon apel

Dengan desakan pohon apel akhirnya dengan berlinang air mata Ali mulai

menggergaji batang pohon apel. Batangnya pun roboh, pohon apel yang

tinggal akarpun berujar segeralah kau buat perahu Ali, keluargamu sudah

menunggu di rumah. Ali yang tak bisa berkata-kata kemudian

meninggalkan pohon apel yang hanya tinggal akar

Waktupun berlalu semakin cepat, pohon apel yang semakin menua masih

setia menunggu Ali yang tak kunjung datang. Bertahun-tahun kemudian, di

penantiannya yang panjang dari kejauhan tampak seorang pria tua, rambut

dan jenggot panjangnya sudah memutih. Bukan main senangnya pohon apel

setelah menyadari pria tua itu adalah Ali

Wahai Ali, itukah dirimu kawan??Tanya pohon apel lirih

benar kawan, ini aku Ali kawanmu, maaf aku tidak pernah mengunjungimu

lagiucap Ali dengan banyak kerutan di wajahnya, memperlihatkan Ali

sudah tidak muda lagi.

tak apa kawan, maaf aku juga sudah tidak bisa memberimu apa-apa lagi,

sudah kuberikan semua buah apel, dahan dan rantingku, serta batang

pohonku, hanya tersisa akar tua di tubuhku sekarang, apa yang bisa

kuberikan lagi padamu kawan??katakanlah, jika bisa akarku ini bisa

membantumu maka cabutlah dari dalam tanah, apapun asal aku bisa

membantumu lagi

tidak kawan, aku sudah lelah menjalani hidup, istriku sudah meninggal 2

tahun yang lalu, anak-anakku kini sudah berkeluarga masing-masing, aku

hanya ingin menghabiskan sisa-sisa hidupku ini bersamamu kawan,

mengenang kisah-kisah indah kita dulu ujar Ali tersenyum

kalau begitu mari kawan, kita habiskan saat-saat terakhir kita bersama,

berbaringlah di sampingku Ali, kita bersama-sama menikmati indahnya

langitpohon apel pun tersenyum

Akhirnya saat itupun tiba, Ali tua menghembuskan nafas terakhir seiring

matinya pohon apel, mereka bersama-sama bergandeng tangan menuju surga.

Kelemahan terbesar dari seorang manusia adalah keraguan mengatakan cinta pada orang yang dicintainya disaat dia masih hidup
It’s better to live one day like a lion than one hundred years like a sheep… _divanusantara2014

Thought via Path

Semangat ya syg..cpt pulang :)) miss u.. – Read on Path.

I’ve shared 56 memories with my friends on Path - see them now at path.com!

I’ve shared 56 memories with my friends on Path - see them now at path.com!

Thought via Path

Love “my wife” :)) – Read on Path.

Pertolongan pertama pas laparrrr,… – View on Path.

Pertolongan pertama pas laparrrr,… – View on Path.

Penawar rasa lafeeeer,…. – View on Path.

Penawar rasa lafeeeer,…. – View on Path.

at Citybank cab. Asia Afrika – View on Path.

at Citybank cab. Asia Afrika – View on Path.

Listening to Banana Pancakes by Jack Johnson

Chilllllllll – Preview it on Path.